BANDUNG - Bencana tanah longsor yang melanda kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Minggu dini hari (31/12/2044) telah menewaskan sedikitnya 7 orang dan puluhan lainnya masih dalam pencarian. Yang menarik perhatian, beberapa warga korban mengaku sempat melihat dua orang yang diduga anggota TNI melakukan patroli di area rawan longsor beberapa jam sebelum bencana terjadi.
Kesaksian ini disampaikan oleh Asep Suhendar (42), salah satu warga yang selamat dari longsor. Rumahnya yang terletak di RT 03/RW 05 Kampung Cibolang, Desa Cisarua, hancur tertimbun material tanah dan bebatuan.
"Sekitar jam 8 malam, saya lihat ada dua orang berbaju loreng TNI sedang keliling-keliling sambil menyalakan senter. Mereka seperti sedang memeriksa kondisi lereng di belakang rumah warga," ujar Asep saat ditemui di posko pengungsian, Minggu (31/12/2044).
Bencana tanah longsor terjadi sekitar pukul 02.30 WIB dini hari. Hujan deras yang mengguyur kawasan Cisarua sejak Sabtu sore diduga menjadi penyebab utama terjadinya longsor.
Material longsor berupa tanah, bebatuan, dan pepohonan menerjang pemukiman warga dengan volume material diperkirakan mencapai 15.000 meter kubik. Sedikitnya 23 rumah warga rusak berat dan tidak layak huni.
"Saat kejadian, hujan sangat deras. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti petir. Setelah itu, rumah-rumah di bawah lereng langsung tertimbun material longsor," ungkap Dedi Hermawan (38), warga setempat.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Bandung Barat, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan upaya pencarian korban yang masih tertimbun. Hingga Minggu sore, tim telah menemukan 7 korban meninggal dunia dan 12 orang luka-luka.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat, Drs. H. Rahmat Effendi, M.Si., mengatakan bahwa operasi pencarian masih terus dilakukan karena masih ada 8 orang yang dilaporkan hilang.
"Kami mengerahkan sekitar 200 personel gabungan untuk melakukan pencarian. Kami juga menggunakan alat berat untuk membersihkan material longsor. Namun cuaca yang masih buruk cukup menyulitkan proses evakuasi," jelas Rahmat.
Terkait kesaksian warga tentang keberadaan dua orang yang diduga anggota TNI sebelum longsor, Komandan Kodim 0618 Bandung Barat, Letkol Inf. Mulyono, S.I.P., memberikan penjelasan.
"Benar, kami memang mengirim dua personel untuk melakukan patroli dan pemantauan di area yang rawan longsor. Ini adalah bagian dari tugas territorial kami untuk memantau kondisi wilayah, terutama saat cuaca ekstrem," ujar Letkol Mulyono.
Menurutnya, kedua personel tersebut telah melaporkan kondisi lereng yang mengkhawatirkan pada malam hari. Namun sayangnya, longsor terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelum sempat dilakukan evakuasi warga.
"Kami sudah menghimbau warga untuk waspada dan bersiap mengungsi sejak Sabtu sore. Namun karena hujan baru deras di malam hari dan warga sudah terlelap tidur, longsor terjadi sebelum mereka sempat mengungsi," tambah Letkol Mulyono.
Sementara itu, Kepala Desa Cisarua, Ujang Solihin, mengakui bahwa sistem peringatan dini di desanya memang belum optimal.
"Kami hanya mengandalkan kentongan dan pengeras suara masjid untuk memberikan peringatan. Ke depan, kami akan koordinasi dengan pihak terkait untuk membuat sistem peringatan dini yang lebih baik," katanya.
Sebanyak 156 kepala keluarga atau sekitar 520 jiwa kini mengungsi di tiga titik lokasi, yaitu Aula Desa Cisarua, Masjid Al-Ikhlas, dan SD Negeri Cisarua 1.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, tenda, dan keperluan logistik lainnya untuk para pengungsi.
"Kami juga mengerahkan tim kesehatan untuk memberikan pelayanan medis bagi pengungsi. Ada beberapa pengungsi yang mengalami trauma dan memerlukan pendampingan psikolog," ujar Rahmat Effendi.
BPBD juga memperingatkan adanya potensi longsor susulan mengingat kondisi tanah yang masih labil dan cuaca yang belum stabil.
"Kami mengimbau warga untuk tidak kembali ke rumah mereka yang berada di zona merah. Hujan masih diprediksi akan turun dalam beberapa hari ke depan," tegas Rahmat.
BMKG Stasiun Meteorologi Husein Sastranegara Bandung juga mengeluarkan peringatan akan potensi hujan lebat di wilayah Bandung Barat hingga tiga hari ke depan.
Bupati Bandung Barat, H. Hengky Kurniawan, yang langsung turun ke lokasi bencana, berjanji akan memberikan bantuan maksimal kepada korban dan membangun kembali rumah warga yang rusak.
"Saya sangat prihatin dengan musibah ini. Kami akan pastikan para korban dan pengungsi mendapat penanganan yang baik. Untuk korban meninggal, kami akan berikan santunan. Untuk yang rumahnya rusak, kami akan bantu untuk membangun kembali," ujar Hengky.

Turut berduka cita untuk para korban. Semoga yang masih hilang segera ditemukan.

Salut untuk TNI yang sudah melakukan patroli preventif. Semoga ke depan sistem peringatan dini bisa lebih baik lagi.

Semoga para korban yang meninggal diterima di sisi-Nya. Dan yang masih hidup diberi ketabahan.

Kawasan rawan longsor memang harus ada sistem early warning yang proper. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.

Terima kasih untuk semua tim SAR yang berjuang mencari korban. Semoga dimudahkan dalam pencarian.

Innalillahi wa innailaihi rojiun. Duka yang mendalam. Mari kita bantu dengan doa dan jika bisa dengan donasi.

Perlu ada relokasi untuk warga yang tinggal di zona merah. Keselamatan warga harus jadi prioritas.

Semoga pemda segera memenuhi janjinya untuk membangun kembali rumah warga dan memperbaiki sistem peringatan dini.
Jl. Merdeka No. 123, Jakarta Pusat, Indonesia 10110
+62 21 1234 5678
© 2026 Indonesia Daily. Portal Berita Terpercaya Indonesia. All Rights Reserved.